33 Komentar

MIMPIKU

Bismillahirramanirahim.

Aku terjaga pada pukul 2.42 dini hari dari tidurku. Kepalaku berat dan pusing namun aku kuatkan untuk melangkah kearah computer untuk mencatat mimpi  yang belum perna aku saksikan dan aku alami. Sengaja aku bangun dan mencatat mimpi ini di computer ini agar esok pagi tidak lupa. Inilah mimpiku, biarlah teman-teman di milis ini menilainya aku tak sanggup menilainya karena aku bukan ahli ramal atau ahli nujum.

Diawali dengan suatu kejadian yang menurutku aneh yaitu aku bertengkar dengan abang iparku padahal aku tahu bahwa kakakku seorang janda sejak kapan pula kakakku kawain dengan orang celaka ini pikirku. Aku sangat membencinya entah apa sebabnya aku juga tidak tahu tiba-tiba saja aku dan dia saling bunuh dan aku katakan padanya bahwa aku menantangnya untuk berduel, dalam hatiku, aku ngeper juga melihat gelagat sinar matanya penuh dengan hasrat untuk membunuh. Namun dari pada malu, aku layani juga. Kakakku sangat senang aku saling baku hantam dengan lelaki ini, dalam hatiku, bahwa kakakku juga membenci lelaki ini tanpa pikir panjang lagi aku pun bertempur saling baku hantam. Entah mengapa tiba-tiba segala persendihan tulangku begitu berat untuk digerakan melayangkan pukulan kewajahnya. Dua tiga jurus telah dia lancarkan kepadaku, Alhamdulillah tidak ada yang kena walaupun begitu beratnya aku mengelak. Ketika jurus-jurus silatnya yang aneh keluar aku mati-matian untuk mengelak tiba-tiba pamanku datang bersama saudaraku yang lain dan tiba-tiba pula lawanku ini menjadi seekor ayam kampung.

Perkelahian terhenti seketika sebab tiba-tiba saja ayam yang ingin aku bantai habis sudah tidak bernyawa lagi dan ibuku telah menyiapkan sekuali gulai namun ayam tadi tidak ada “isi”nya alias tinggal kulit dan buluhnya saja. Akupun tertegun.

Akupun pergi begitu saja meninggalkan rumah, belanja sesuatu di warung yang tidak jauh dari rumahku namun aku lupa apa yang aku beli. Yang aku ingat adalah aku pergi ke warung tidak memakai sandal dan beberapa butir gula-gula ada dalam genggamanku. Aku katakan pada orang yang punya warung bahwa aku meminjam sandalnya dan aku ingat dengan merek sandal usang itu yaitu “daimatu”. Sandal ini mengingatkan aku waktu masih kecil dahulu. Sandal inilah yang “paling sanggup” dibelikan oleh orang tuaku ketika aku masih kecil.

Ketika akan memakai sandal inilah aku mendengarkan bunyi yang begitu memekakkan telinga, sangking memekakkan maka kedua telunjukku menutup telinga ini, namun bunyi yang memekakkan telinga begitu hebatnya, kedua jari telunjukku seakan-akan tidak berfungsi.

Akupun keluar dari warung itu dan ingin mencari sumber bunyi tersebut walaupun dengan telinga kesakitan. Maka pemandangan yang sangat menggetarkan seluruh manusiapun terpampang hebat dimataku, dari arah timur aku melihat gumpalan api yang sangat menyeramkan diiringi dengan gempa bumi yang teramat sangat, aku seperti mau terbang dan melayang karena gempa bumi, namun aku tidak memperdulikan gempa bumi itu sebab api di timur dengan semburan awan merah bergulung-gulung menyeramkan menebar kebencian bagaikan leher neraka Jahanam menyebar keseluruh arah mencuri perhatikankku lebih hebat. Aku sempat berpikir bahwa ada gunung meletus namun aku juga tahu bahwa arah timur pemandanganku tidak ada gunung. Lalu dari mana api dan awan merah celaka ini datangnya?

Tiba-tiba saja dari arah sebelahnya hal serupa juga terjadi barulah aku sadar bahwa huru-hara di akhir zaman sedang dan akan terjadi Akupun teringat dengan sandal yang aku pinjam dari orang warung tadi, terniat dihati untuk mengembalikannya sebab ha ini akan menambah daftar dosa-dosaku dan aku juga ingat, bahwa aku kewarung juga pergi dengan motor namun aku tidak memperdulikan motor tersebut aku lebih memperdulikan sandal usang tadi, hilang entah kemana.

Suara yang datang entah dari mana dan memekakkan telinga tidak kunjung henti ada sesuatu yang keluar dari kedua telingaku. Aku tidak berani melihatnya. Karena api dan awan yang bergulung-gulung menyeramkan semakin hebat. Barulah aku sadar dengan firman Allah dalam Al Quran bahwa tobat tidak lagi berguna ketika manusia melihat azab dari Allah. Akupun tersungkur di tanah memohon ampun kepada Allah walaupun aku tahu tidak ada gunanya. Perbuatanku ini diikuti oleh seluruh manusia yang ada disekelilingku, seluruhnya tersungkur di tanah memohon ampun. Masih segar di dalam ingatanku suara-suara memohon ampun kepada Allah. Tiba-tiba saja alam menjadi cerah dan tenang kembali. Bukan main lega dan gembiranya hatiku.

Aku sibuk mencari sandal yang hilang karena aku meminjam kepada orang warung. Syukurlah sandal itu dapat aku temukan. Akupun bergegas pulang untuk melihat keluargaku karena aku sangat mengkhawatirkan mereka. Sampai dirumah syukurlah tidak ada yang kurang, anakku yang paling kecil cepat-cepat aku gendong dan aku cium sepuas-puasnya. Namun aku sangat heran melihat mereka (keluarga) yang tenang-tenang saja padahal aku barusan bergelumang dengan maut. Begitu cemasnya aku terhadap keluarga, aku juga tidak sempat mengingat entah dimana aku memakirkan motorku. Aku tidak peduli.

Pukul 2.42 dini hari, malam jum’at aku terjaga karena udara yang begitu panas. Nafas aku sesak seperti di cekik dan kedua telingaku sangat sakit. Aku lihat anak dan istriku yang “bobok” begitu pulas. Akupun melangkah ke computer. Suara lolongan anjing mengiringi langkahku. Aku tak peduli.

gambar: http://terselubung.blogspot.com