28 Komentar

INDAHNYA MASA KECILKU

Masih kuingat suara azan subuh mengumandang ketika aku diajak ibu pergi kepasar. Tangan lembut kakakku memegang lenganku dengan erat. Aku tak perna habis berpikir mengapa azan subuh begini rupa sudah banyak orang yang berjualan di pasar, ada yang jualan pisang goreng, lontong, pecel dan toko pakaian juga ada yang buka.

Ku pandang wajah ibu dan kakakku dengan sumringah mereka membeli ini dan itu aku hanya takjub mendengar suara azan subuh itu. Aku tak mempedulikan apa yang mereka beli pandanganku berhenti diatas sebuah Menara Masjid. Sebuah bintang berekor berjalan dengan perlahan, kuperhatikan bintang aneh ini terus menerus sampai menghilang di telan awan. Aneh mengapa manusia-manusia dipasar ini tidak memperhatikan apa yang aku lihat. Bedebah…jangan-jangan aku sudah tak waras lagi.

Ada dua layang-layang  berikut dengan benangnya, pasti yang satu untuk adikku pikirku. Aku juga tak mempedulikan layang-layang yang dibelikan ibu. Kembali mataku nanar ke arah selatan dimana awan sialan itu telah membatasi pemandanganku.  Ternyata dugaanku tepat, bintang itu kembali muncul namun sudah jauh sekali. Ekornya yang seperti kembang api seakan-akan mengucapkan salam perpisahan padaku. Aku menjadi sedih. Ah… entah kapan lagi aku dapat menyaksikan pemandangan yang mengagumkan ini.

Perjalanan kisah ini adalah kisah nyata bagi diriku yang kusimpan rapi dalam memoriku, dengan satu harapan semoga Allah mempertontonkan kembali apa yang kulihat dengan mata kepalaku sementara orang lain sibuk dipasar.

Suara azan subuh yang kudengar disaat aku masih kecil itu sangat membekas dalam jiwaku dibandingkan suara azan yang lainnya. Masih kuingat bangunan masjid tua itu dengan hiasan cat dimenaranya yang sudah mengelupas. Namun suara speakernya membahana ke angkasa apakah bintang berekor itu mendengar atau tidak aku tidak tahu.

Iklan