164 Komentar

SENYUMLAH…

Sudah banyak hujatan-hujatan pada kaum muslimin diberbagai blog, namun saya sebagai salah satu hamba Allah merasa sedih karena saya tidak tahu harus berbuat apa…mau mengadukan masalah kepada Allah…Allah hanya tersenyum manis padaku seakan-akan  Allah menunjukan kepadaku bagaimana sebenarnya ‘sabar’ itu…

Aku sebenarnya tidak mau berburuk sangka kepada Allah, sebab aku tahu Dia selalu mengawasi segala sepak terangku… seandainya satu saja yang Dia tidak tahu, maka sudah aku lakukan….

Aku teringat akan cerita teman baikku disuatu malam… dia bercerita tentang seorang anak kecil dan musa. (dalam bahasa kita) “wahai bocah…apa yang sedang engkau katakan mengenai Tuhanku?” tanya musa selidik, anak kecil itu menjawab “wahai bapak…aku kasihan sama Tuhan…Dia sudah capek bekerja, memberiku makan dan minum dan memelihara langit dan bumi…seandainya Dia berada didekatku maka aku akan memijat-mijat dan mengelus kakinya…memijat badanNya dan membersihkan WajahNya…” dengan penuh rasa sayangnya kepada Allah anak kecil tadi menceritakan isi hatinya. “kurang ajar engkau wahai anak…mengapa engkau berkata begitu mengenai Tuhanku…apa perlu engkau kuhajar sampai minta ampun…” hardik musa penuh amarsenyumah. belum sempat musa akan menghajar anak kecil ini, maka musa mendengar sebuah suara

“Wahai Musa…apakah engkau akan menghajar anak kecil ini…sedangkan Aku Tuhanmu Yang Maha Perkasa tersenyum mendengar perkataan hatinya yang paling dalam sebab hanya Aku Zat yang Maha Mendengar dan Mengetahui…apa yang dia nyatakan dari mulutnya sebuah ungkapan rasa sayangnya kepadaKu dan dihatinya lebih hebat lagi. Apakah ungkapan anak kecil ini telah mengganggu ketenanganmu? Apakah kata2nya berupa dusta padamu…Apakah dia sama dengan dirimu?

Musa tersungkur bersujud memohon ampun atas kekhilafannya “Ya Allah sungguh aku terbawa oleh amarah padahal sebenarnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar…Ya Allah sekiranya Engkau tidak mengampuni aku sungguh aku termasuk orang2 yang merugi”

Mendengar cerita temanku tadi banyak pelajaran yang aku dapat dari cerita ini. maka akupun teringat dengan cerita yang lainnya:

“mengapa engkau menggambar seperti ini…” kata kakaknya kepada adiknya, maka jawab sang adik “kakak ini bagaimana…bukankah seekor kuda itu mempunyai dua mata dan dua telingah…apanya yang salah dengan gambarku” jawab sang adik menerangkan sekaligus bertanya penuh selidik.

“hmmm…bukankah engkau menggambar kuda ini dari samping jadi yang kelihatan dari samping hanya sebelah matanya saja buka nampak kedua2nya seperti ini!” jawab sang kakak menjelaskan. “kalau begitu kakak berbohong…belum perna aku melihat kuda bermata satu”

Apa yang harus kita selesaikan dari masalah ini sebab kedua2nya benar. pendapat sang adik  benar dan pendapat sang kakak juga benar lalu yang salah yang mana? disinilah perlunya kebijaksanaan orang tua untuk menjelaskan hakekat yang sesungguhnya, orang tua yang bijaksana akan berkata

“wahai sang kakak pendapat adikmu itu benar…sebab dia tahu bahwa seekor kuda memiliki dua mata… itulah sebabnya dia menggambar dua mata kuda walaupun kuda yang digambarnya itu dari samping… dia akan protes kepadamu mati-matian kalau engkau mengatakan kuda itu bermata satu karena tidak sesuai dengan kenyataan yang dilihatnya, apakah adikmu berdusta padamu?” “yah Ayah…apa yang Ayah katakan benar…sekarang aku baru mengerti hahahahahah…wahai adik engkau adikku yang baik dan cerdas ternyata engkau tidak bisa dibohongi hahahahah…sekarang kakak mau ngeblog lagi silahkan lanjutkan gambarmu” Ayah dan Ibu tersenyum, kakak tersenyum dan Tuhanpun tersenyum sementara aku… mampukah tersenyum seperti mereka?

Hari telah larut malam…kurebahkan badan rongsokan ini, langit-langit kamar mencuri perhatianku. Sebuah senyuman tergambar disanah…