Larilah Kehulunya….

2009 Juli 13
by Filar Biru

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.(Al-Mumtahanah 13)

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang kafir putus sudah harapannya. Baik di alam kubur maupun di akhirat dan sesungguhnya janji Allah adalah benar.

Mengapa mereka berputus asa…apa yang terjadi pada mereka?
Asa sama dengan harapan, manusia meletakan harapan pada sebagian yang lain namun harapan tinggal harapan asa tinggal asa. Kepada siapa mereka menggantungkan harapan? Tidak lain tidak bukan kepada thagut. Yakni kepada tuhan-tuhanan. Mengapa sampai menaruh harapan pada thagut? Bukankah mereka yakin dan seyakin-yakinnya mendapatkan keselamatan?
Baik islam maupun non islam akan mendapatkan tempat yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Takdir seperti ini hanya dapat ditembus dengan satu jalan yakni TOBAT. Tobat sendiri adalah takdir. Mengapa harus bertobat?

Didalam islam diajarkan bagaimana tobat itu sebenarnya dan banyak hadist nabi yang menyinggung masalah ini.

Ketika mereka mendapatkan siksaan yang hebat di dalam kubur, namun ingatan mereka tidak hilang bahkan ingatan mereka terlempar kedunia, mereka ingat bahwa telah datang kepada mereka seseorang pemberi peringatan hanya saja mereka tidak menghiraukannya. Ketika cambuk dan pengadah dari api nereka menghancurkan tubuh mereka semakin jelas ingatan yang mereka miliki kekafiran demi kekafiran yang mereka lakukan tidak lain hanya buah sesal yang mereka petik sekarang.

Keselamatan demi keselamatan yang diagung-agungkan ketika hidup didunia hanyalah sebuah tipu daya Iblis yang menyesatkan kaum adam. Ketika cambuk yang berpijar melilit tubuh mereka barulah mereka sadar bahwa sesungguhnya mereka telah jauh dari keselamatan itu.

Ayat diatas adalah gambaran umum yang diberikan oleh Allah SWT. Sesungguhnya kaum kafir benar-benar berputus asa. Walaupun islam sekalipun namun tidak menjalankan syariat nabi maka siksaan mereka lebih hebat lagi dari kaum yang benar-benar kafir.

Allah menjelaskan dalam Al Quran bahwa kaum munafik tempatnya adalah dasar atau kerak neraka. Berbeda dengan Iblis walau tempatnya sudah pasti neraka namun tidak didasar nereka. Untuk minta keselamatan hanya kepada Allah saja tidak yang lain, sebab ditanganNyalah keselamatan itu.

Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (Ass-Shaff 6)

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. (Ass-Shaff 9)

Kalaulah tidak datang seorang Rasul kepada manusia untuk memberikan ajaran yang benar dan tiba-tiba Allah mengazab kita dengan azab yang hebat itu…maka bolehlah kita komplen kepada Allah. Dan saya rasa Allah akan mencabut azab tersebut. Maka kalimat protes yang akan keluar dari penduduk nereka adalah “Ya Allah Tuhan Yang Maha Perkasa, kami ini adalah hambaMu apa dosa dan kesalahan kami sehingga Engkau berlaku seperti ini…kalaulah kami salah dan berdosa tunjukkan kepada kami mana yang salah dan mana benar padahal belum datang kepada kami seorangpun yang memberi petunjuk”

Namun scenario yang sebenarnya adalah kebalikan dari itu semua bahwa sang utusan itu sudah berada ditengah-tengah kita dan sekarang telah meninggalkan dua petunjuk hebat Al Quran dan Al Hikma (Sunnah Nabi).

Kemana kita akan lari? Tidak ada tempat untuk lari selain berlari kepada Allah saja. Pepatah mengatakan “kalau takut kemata pedang maka larilah kehulunya”

25 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juli 13

    pertamaaaaaaaxxxxxzzzzzz

    • 2009 Juli 13

      sekaligus keduaaaaaaaaxxxxxzzzzz

      • 2009 Juli 13

        kacugaaaaaaaaxxxxzzzzz.. komengnya besoook aaah.. mata dah ngantuk yaaaaaaaaa..
        Salam Sayang Sahabatku bluuuueeeeeeeeee

  2. 2009 Juli 14

    Bobo aja dulu kang

    Salam juga

  3. 2009 Juli 14

    Hmmm..artikel yg mengingatkan mereka nich wak ,,,

    dalam beberapa diskusi : http://kweklina.wordpress.com/2009/02/22/ragukah-kita-akan-keberadaan-tuhan/#comment-2902

    mereka condong takut akan hal surga dan neraka.
    sepertinya terlalu seram bagi mereka…

    padahal…ibaratkan(ibarat tak sama dgn asli atau beda tak serupa) 2 kampung yang kita tuju…
    atau 2 planet layak huni….
    tergantung pilihan kita…

    • 2009 Juli 15

      mereke condong takut akan hal surga dan neraka.

      ————————————————–

      Yap! Begitulah para atheis! Ada kebenaran didepan mata, namun mereka tidak bergeming.

    • 2009 Juli 16

      @Wak Chan

      benar juga lo heheh
      tapi apakah yang mereka rasakan ketika mendengar kata surga dan neraka ya?

  4. 2009 Juli 14

    Benar wak chan artikel ini adalah bantahan bagi mereka tentang keselamatan yg selalu mereka gembar gemborkan dan AQ menjawab dgn mengerikan

  5. 2009 Juli 15

    haddiirrr….
    akhirnya… ku menemukan yang baru
    hehehe….

    Komplen pada Alloh??? Ngimpi aja jangan pernah deh :)
    karena memang Alloh Ta’ala sudah mempersiapkan untuk kita segala perlengkapan untuk menghadap-Nya kelak. Dunia diciptakan untuk mencari sebaik-baiknya bekal. Al-Qur’an en Al-Hadist diciptakan sebagai petunjuk arah kemana seharusnya melangkah. Ada tobat untuk mengikis dosa yang pernah kita perbuat. Lalu apa lagi yang bisa kita pungkiri???

    salam…
    c u….

  6. 2009 Juli 15

    baca dulu ya @Biru,

    saya lagi di kantor, insya allah ntar malem saya koment

  7. 2009 Juli 15

    @Tuan Putri

    Ah benarlah tuan putri para atheis mana ada yg percaya ama tuhan

    @Faza

    Nggak ada yg mampu kita sembunyikan di hadapan Allah

    Semuanya jelas bagiNya

    Salam kembali eyang

    @Qorrobin

    Boleh

    Ntak tunggu ya

    Salam kenal

  8. 2009 Juli 15

    sang utusan itu sudah berada ditengah-tengah kita dan sekarang telah meninggalkan dua petunjuk hebat Al Quran dan Al Hikma (Sunnah Nabi).
    Ketika sang utusan “meninggalkan” warisan … ironisnya ummat skr warisan rosul itu “ditinggalkan” maka tinggalah Kalam hanya dalan teks.. aktualy sejati tinggal pergi .. hi hi hi sedih hati kenapa ini terjadi ..

    Salam

  9. 2009 Juli 15

    Assalamu’alaikum..
    salam kenal ustadz, maaf br bs silaturahim itu juga lewat kangboed hehehe
    Dan punten juga karena bertamu sekalian pamitan karena mau kerja dulu
    Komentnya apa ya..bagus ustadz artikelnya boleg di copy ya?
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

  10. 2009 Juli 15

    SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG

  11. 2009 Juli 15

    @KC

    Teliti juga lo

    Salam

    @dasir

    Boleh copy aja nggak ada yg larang

    Salam

    @kang

    Wele2 … Calam juga

  12. 2009 Juli 16

    nemu blog kerennnn
    lam kenal kang
    numpang berteduh dan cari ilmu

    mampir ke rumah mimpiku kang
    http://rumahdanmimpi.blogspot.com/

  13. 2009 Juli 16
    adi isa permalink

    pepatahnya itu yang bikin ngeri…hehehehe..
    nice post..

  14. 2009 Juli 16

    Kemana kita akan lari? Tidak ada tempat untuk lari selain berlari kepada Allah saja.

    Kata “kepada” mengindikasikan sesuatu yang dijadikan tujuan, sedangkan tujuan bisa diasosiasikan kepada “person” atau “tempat”. Jadi maksud kalimat “berlari kepada Allah (atau) kembali kepada Allah” itu tentulah dalam sekali maksud dan maknanya. Nah, kiranya Bung Filar ini berkenan memberikan penjelasan singkat mengenai ini; apa maksud dari frasa “kepada ALLAH” itu. Saya ini masih awam, jadi mohon pencerahannya.

  15. 2009 Juli 16

    @Presiden AS

    sebelumnya saya ucapkan
    mat berkunjung di warung ku ini heheh…
    baiklah akan saya jabarkan

    Allah adalah Tuhan yang sebenarnya tuhan dan bukan tuhan-tuhanan, dengan kata lain Allah tiada Tuhan Selain Dia yang menjadi sumber kehidupan sekaligus kematian. ditanganNya tergenggam segala sesuatu.

    sampai disini kayaknya lo udah ngertikan maksud gue…

    Neh…jadi wajar kita kembali kepadaNya sebab kita juga berasal dari sononya heheh.

    jadi maksud dari “kepada Allah” adalah tempat kita kembali. karena tidak ada tempat yang bukan buatanNya hehehe. emangnya ada tempat yang bukan made in Allah hehehe
    jadi kemanapun kita lari akhirnya kepadaNya juga kita menujuh terpaksa maupun tidak terpaksa.

    salam

  16. 2009 Juli 16

    @bayu200687

    mat berkunjung bro salam kenal ya

    tadi udah kesana ketempat mas bayu tapi komen gue nggak masuk tuh…masuk spam ya

    @ Adi Isa

    kemana aja lo mas adi…orang pada sibuk diskusi di tempat haniifah nah lo lenyap tampa bekas
    salam rindu gue pada lo…heheheh

    yaayayaya…pepatahnya emang ngeri dah…

    • 2009 Juli 18
      adi isa permalink

      yang jelas saya selalu mantau teman-teman semua, meski belum bisa kasih koment
      kalau boleh tau, apa topik diskusi yang seru disana?
      soalnya artikel kang hanif..cepat sekali updatenya…hehehehe

      salam hangat

  17. 2009 Juli 17

    Terima kasih postingnya salam kenal

  18. 2009 Juli 18

    @mas adi

    Tentang imam madhi :-D

    Salam

    • 2009 Juli 19
      adi isa permalink

      oh itu, iya…udah kasih koment disana.

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS